Penggabungan ruang keluarga dengan ruang tamu

PENGGABUNGAN dua fungsi ruang adalah trik jitu menyiasati keterbatasan lahan dalam hunian.

Saat ini dengan semakin terbatasnya lahan yang tersedia di perkotaan untuk hunian, akan menuntut adanya efisiensi dalam memanfaatkan lahan yang ada. Untuk daerah-daerah pusat kota dengan tingkat kepadatan yang tinggi dan harga tanah yang relatif mahal, cenderung menuntut penggunaan bangunan secara vertikal atau ke atas.

"Keterbatasan lahan dan mahalnya harga tanah ini juga membuat para developer mengembangkan perumahan dengan tipe-tipe kecil dengan ukuran ruangan yang tentunya semakin terbatas," ujar arsitek Mitra Graha Asri Mandiri Ir Wisnu Brata.

Selanjutnya, hal ini akan membawa kita di dalam strategi pengoptimalan pemanfaatan ruang dalam rumah baik di area perkotaan maupun di pinggiran kota yang memiliki lahan sempit. Demikian pula penggunaan ruangan dituntut semaksimal dan seefektif mungkin sehingga dapat digunakan untuk aktivitas sehari-hari.

Penggabungan ruang tamu dan ruang keluarga adalah ruang tamu digunakan merangkap sebagai ruang keluarga.

"Lebih tepatnya di sini adalah ruang keluarga juga digunakan sebagai ruang tamu. Karena keterbatasan ruang, maka berdasarkan prioritas penggunaannya kita meniadakan fungsi ruang tamu dan dikonversi atau dialihkan dan disediakan menyatu dengan ruang keluarga," terang Wisnu panjang lebar.

Mengapa hal ini dapat dan layak dilakukan? Sebenarnya ada beberapa alasan yang mendasar yang menjadi pembenaran terhadap hal ini. Pertama, tingkat kesibukan keluarga. Saat ini sudah menjadi kelaziman dan kewajaran dalam keluarga yaitu ketika suami maupun istri sama-sama bekerja mencari nafkah dan tinggal di pinggiran atau luar kota. Sehingga pada siang hari rumah cenderung kosong dan hanya ditempati pembantu.

Kedua, jika ingin mengadakan pertemuan dengan teman atau saudara maka dilakukan di dekat tempat kerja atau tempat lain dan bukan di rumah tinggal karena sampai di rumah cenderung malam hari dan kondisi fisik sudah terlalu lelah.

Ketiga, tingkat kunjungan tamu yang relatif rendah karena masing-masing orang memiliki kesibukan sendiri-sendiri, tidak memiliki banyak waktu untuk ngerumpi dan semakin jarang bersosialisasi dengan saling mengunjungi tetangga dan aktivitas sosial lebih banyak dilakukan di luar rumah.

Keempat, orang yang datang berkunjung ke rumah dan diperbolehkan masuk cenderung orang yang sudah dikenal atau anggota keluarga sehingga tidak diperlukan batas-batas privasi yang ketat dan dapat digunakan ruang keluarga sebagai tempat penerima.

Kelima, untuk urusan lingkungan seperti dengan tagihan iuran RT maupun iuran bulanan cukup dilakukan di teras depan dan tidak perlu di bawa masuk ke dalam.

"Penggabungan seperti ini telah umum dan banyak digunakan di lingkungan apartemen," ujar Wisnu. Berdasarkan hal-hal tersebut, penggabungan antara ruang keluarga yang menyatu dengan ruang tamu adalah pilihan tepat dan sangat realistis untuk rumah yang memiliki lahan terbatas.

Karena menampung dua fungsi sekaligus, maka kita akan memprioritaskan fungsi yang lebih utama ataupun lebih sering digunakan yaitu sebagai ruang keluarga.

Agar rencana di atas dapat berjalan dengan baik, kita dapat melakukan beberapa hal sebagai berikut. Pertama, mengganti fungsi ruang tamu dengan teras.

"Jadi kita harus memanfaatkan teras depan yang dilengkapi dengan kursi agar dapat digunakan untuk menerima tamu terutama tetangga sekitar atau untuk urusan lingkungan," ujarnya.

Kedua, membuat area transisi antara teras depan dan ruang dalam. Kita membuat batas yang lebih privat antara ruang luar dalam hal ini teras dan ruang dalam. Misalnya dengan dinding masif berikut jendela kecil atau dapat juga berupa area ruang kecil sebagai penyangga atau buffer berupa foyer.

Ketiga, membuat perabot atau rak TV yang multifungsi. Perabot ini sebaiknya memiliki ukuran yang kompak dan bahkan kalau bisa pintunya dapat disembunyikan, disamarkan, atau dibuka dan ditutup.

"Sehingga jika ada tamu yang datang, layar tvnya tidak akan terlihat langsung oleh tamu," saran Wisnu.

Keempat, meletakkan perabot kursi ruang duduk yang nyaman sesuai fungsinya. Dengan fungsi utama sebagai ruang keluarga, maka kursi yang akan digunakan sebaiknya juga dapat dipakai untuk menonton TV.

"Atau bahkan kita juga dapat menggunakan sofa bed sebagai kursinya namun dalam model yang telah disesuaikan dengan gaya dan proporsi ruangan kita," tutup Wisnu.
(sindo//tty)


0 Comments:

Posting Komentar

Silahkan Tinggalkan Komentar Anda